Setelah mempelajari teori belajar disiplin mental, dan behaviorisme selanjutnya akan dijelaskan mengenai teori belajar kognitif gestalt, selamat membaca :)
A, Pengertian
B. Karakteristik Teori Belajar Kognitif Gestalt
D. Tokoh dalam Teori Belajar Kognitif Gestalt
F. Implementasi Teori Belajar Kognitif Gestalt
G. Kelebihan dan Kekurangan Teori Belajar Kognitif Gestalt
Daftar Pustaka
http://worldhealth-bokepzz.blogspot.com/2012/05/pengertian-psikologi-gestalt.html
http://ricky-diah.blogspot.com/2011/10/teori-belajar-kognitif-teori-gestalt.html
http://todayon2009.wordpress.com/2009/12/28/teori-belajar-kognitif-–-gestalt/
http://anii88.blogspot.com/2011/11/teori-gestalt.html
http://newjoesafirablog.blogspot.com/2012/05/teori-gestalt.html
A, Pengertian
Kognitif erat kaitannya dengan mental, yakni mempelajari proses mental, bagaimana orang berfikir, merasakan, mengingat dan belajar. Kemudian berhubungan pula dengan topik perhatian, persepsi, memori, bahasa, berpikir, dan membuat keputusan. Kognitif dapat dimaknai juga sebagai psikologi khusus pada pemahaman dan pengetahuan dalam mempelajari proses mental.
Istilah ‘Gestalt’ sendiri merupakan istilah bahasa Jerman yang sukar dicari terjemahannya dalam bahasa-bahasa lain. Arti Gestalt bisa bermacam-macam sekali, yaitu ‘form’, ‘shape’ (dalam bahasa Inggris) atau bentuk, hal, peristiwa, hakikat, esensi, totalitas. Terjemahannya dalam bahasa Inggris pun bermacam-macam antara lain ‘shape psychology’, ‘configurationism’, ‘whole psychology’ dan sebagainya. Karena adanya kesimpangsiuran dalam penerjemahannya, akhirnya para sarjana di seluruh dunia sepakat untuk menggunakan istilah ‘Gestalt’ tanpa menerjemahkan kedalam bahasa lain. Untuk memudahkan dalam memberikan pengertian tentang gestalt dapat dijelaskan di dalam pengertian psikologi gestalt, yaitu merupakan salah satu aliran psikologi yang mempelajari suatu gejala sebagai suatu keseluruhan atau totalitas.
Teori kognitif dan gestalt lebih menekankan pada proses mental (proses pemikiran) yang melatar belakangi kegiatan atau aktivitas belajar. Sudut pandang ini didasarkan atas aliran strukturalisme dan aspek neurologi sebagai latar belakang pembentukan teorinya. Kedua teori ini menekankan pada proses sensasi dan persepsi1 yang melatar belakangi belajar. Asumsinya, perubahan dalam proses persepsi merupakan landasan belajar. Proses perseptual dasar bekerja berdasarkan prinsip-prinsip gestalt yang mencoba untuk menjelaskan bagaimana individu mengorganisasikan (atau mereorganisasikan) potongan-potongan informasi menjadi suatu keseluruhan yang lebih punya makna.
Teori belajar Gestalt (Gestalt Theory) ini lahir di Jerman tahun 1912 dipelopori dan dikembangkan oleh Max Wertheimer (1880 – 1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving, dari pengamatannya ia menyesalkan penggunaan metode menghafal di sekolah, dan menghendaki agar murid belajar dengan pengertian bukan hafalan akademis. Sumbangannya ini diikuti tokoh-tokoh lainnya, seperti Wolfgang Kohler (1887 – 1959) yang meneliti tentang “insight” pada simpanse yaitu mengenai mentalitas simpanse (ape) di pulau Canary. Kurt Koffka (1886 – 1941) yang menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan, dan Kurt Lewin (1892 – 1947) yang mengembangkan suatu teori belajar (cognitif field) dengan menaruh perhatian kepada kepribadian dan psikologi sosial.
Menurut teori Getalt, teori strukturalisme dan behaviorisme melakukan kekeliruan, diantaranya karena reductionictic approach, artinya keduanya mencoba membagi pokok bahasan menjadi elemen-elemen. Strukturalisme mereduksi perilaku dan berpikir sebagai elemen dasar, sedangkan behaviorisme mereduksi perilaku menjadi kebiasaan (habits), respons berkondisi atau secara umum dapat dikemukakan hubungan stimulus-respon. Aliran Gestalt tidak setuju mengenai reduksi ini.
Menurut teori Getalt, teori strukturalisme dan behaviorisme melakukan kekeliruan, diantaranya karena reductionictic approach, artinya keduanya mencoba membagi pokok bahasan menjadi elemen-elemen. Strukturalisme mereduksi perilaku dan berpikir sebagai elemen dasar, sedangkan behaviorisme mereduksi perilaku menjadi kebiasaan (habits), respons berkondisi atau secara umum dapat dikemukakan hubungan stimulus-respon. Aliran Gestalt tidak setuju mengenai reduksi ini.
B. Karakteristik Teori Belajar Kognitif Gestalt
- Hukum keterdekatan, Hukum ketertutupan, dan Hukum kesamaan
- Melakukan banyak latihan
- Adanya pemahaman belajar Insight. makna Insight dapat dijelaskan sebagai pemecahan masalah secara jitu yang muncul setelah adanya proses pengujian berbagaidugaan/kemungkinan. Setelah adanya pengalaman insight, individu mampumenerapkannya pada problem sejenis tanpa perlu melalui proses trial-error lagi.Timbulnya insight pada individu tergantung pada :
- Kesanggupan. Kesanggupan berkaitan dengan kemampuan inteligensi individu.
- Pengalaman. Dengan belajar, individu akan mendapatkan suatu pengalaman dan pengalaman ituakan menyebabkan munculnya insight.
- Taraf kompleksitas dari suatu situasi. Semakin kompleks masalah akan semakin sulit diatasi
- Latihan. Latihan yang banyak akan mempertinggi kemampuan insight dalam situasi yangbersamaan
- Trial and Error. Apabila seseorang tidak dapat memecahkan suatu masalah, seseorang akanmelakukan percobaan-percobaan hingga akhirnya menemukan insight untukmemecahkan masalah tersebut.
- Hukum Pragnanz, yang mengatakan bahwa organisasi psikologis selalu cenderung ke arah yang bermakna atau penuh arti (pragnanz)
- Hukum kesamaan, yang mengatakan bahwa hal-hal yang sama cenderung membentuk gestalt (keseluruhan)
- Hukum kecenderungan mengatakan bahwa hal hal yang berdekatan cenderung berbentuk gestalt.
- Hukum ketertutupan, yang mengatakan bahwa hal-hal yang tertutup cenderung membentuk gestalt.
- Hukum kontinuitas yang mengatakan bahwa hal-hal yang berkesinambungan cenderung membentuk gestalt.
D. Tokoh dalam Teori Belajar Kognitif Gestalt
- Max Wertheimer (1880 – 1943)
- Kurt Koffka (1886 – 1941)
- Wolfgang Kohler (1887 – 1959)
- Kurt Lewin (1892 – 1947)
- Principle of Proximity: bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.
- Principle of Similarity: bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu.
- Principle of Objective Set: Organisasi berdasarkan mental set yang sudah terbentuk sebelumnya
- Principle of Continuity: Organisasi berdasarkan kesinambungan pola
- Principle of Closure/ Principle of Good Form: bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.
- Principle of Figure and Ground: yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warnadan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat samar-samar, makaakan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. Contoh: perubahan nada tidak akan merubah persepsi tentang melodi.
- Principle of Isomorphism: Organisasi berdasarkan konteks.
F. Implementasi Teori Belajar Kognitif Gestalt
- Pengalaman tilikan (insight) Tilikan memegang peranan yang penting dalamperilaku yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atauperistiwa.
- Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning) Kebermaknaan unsur-unsuryang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makinjelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari.
- Perilaku bertujuan (purposive behavior) Perilaku terarah pada tujuan.Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi adaketerkaitannya dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalanefektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu,guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantupeserta didik dalam memahami tujuannya.
- Prinsip ruang hidup (life space) Perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkanhendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupanpeserta didik.
- Transfer dalam Belajar Pemindahan pola-pola perilaku dalam situasipembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajarterjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasitertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tatasusunanyang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokokyang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum(generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkapprinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untukkemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain.
G. Kelebihan dan Kekurangan Teori Belajar Kognitif Gestalt
Kelebihan dalam teori belajar ini ialah dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah juga dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik karena peserta didik dikondisikan untuk menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan atau pengalaman dirinya, menimbulakan ketertarikan tersendiri.
Kekurangan dari teori belajar ini ialah harus banyak fasilitas pendukung, serta keberhasilan belajar tidak dapat di lihat dari satu peserta didik saja tapi harus dilihat secara keseluruhan
Daftar Pustaka
http://worldhealth-bokepzz.blogspot.com/2012/05/pengertian-psikologi-gestalt.html
http://ricky-diah.blogspot.com/2011/10/teori-belajar-kognitif-teori-gestalt.html
http://todayon2009.wordpress.com/2009/12/28/teori-belajar-kognitif-–-gestalt/
http://anii88.blogspot.com/2011/11/teori-gestalt.html
http://newjoesafirablog.blogspot.com/2012/05/teori-gestalt.html
Gratis, 10 Iklan anda tampil di Blog/Web orang lain & mendapat income, http://www.incomeklik.blogspot.com
BalasHapus